Evaluasi Badak Sumatera Indonesia

Bangsa Indonesia seharusnya bangga memiliki 2 jenis badak dengan ciri khas tersendiri dari 5 jenis badak yang ada di dunia. Salah satunya yaitu badak sumatra yang merupakan jenis paling primitif diantara jenis badak lainnya.  Nilai budaya dan ilmu pengetahuan yang begitu tinggi ini terancam hilang mengingat jumlah populasi badak yang semakin menurun. Dari ke-14 kategori spesies yang terancam punah menurut Primack, badak sumatra memiliki 10 ciri-ciri tersebut.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti jumlah badak sumatra di dunia, diperkirakan jumlahnya kurang dari 200 ekor. Jumlah yang sangat sedikit tentunya. Perilaknya yang soliter dan memerlukan wilayah jelajah yang luas hingga 700 hektar menyebabkan satwa ini rentan akan perburuan dan degradasi habitat. Apabila kondisi ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin keberadaan satwa ini hanya akan tinggal kenangan. Penangkaran yang dilakukan di 10 lokasi baik dalam dan luar negeri sejak tahun 1985 pun belum memberikan hasil yang memuaskan. Padahal konservasi eksitu memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan  jumlah populasinya di alam yang semakin rentan. Oleh karena itu, perlu dilakukan rencana-rencana strategis dalam pembiakan badak sumatra di penangkaran agar populasi badak dapat terselamatkan.

Pemeliharaan badak di kebun biantang sangat sulit, karena sering mengalami kematian. Perilaku badak tidak terakomodasi dengan baik pada kandang atau areal konservasi oleh lembaga-lembaga konservasi eksitu. Saat ini yang terjadi di beberapa kebun binatang di pulau Sumatera tidak ada keseimbangan antara usia dan jenis kelamin yang terdapat dalam penangkaran. Permasalahan ini terkait dengan proses reproduksi, dan karakter dari badak yang potensi kecil dalam berkembang biak (Sutisna, 1991)

Masalah klasik yang selalu terjadi di hampir semua sarana konservasi yaitu dana. Dana yang tidak begitu besar harus mampu digunakan untuk memutar roda kegiatan konservasi ek-situ. Karena belum ada prioritas yang jelas sehingga mengurangi standar pemeliharaan badak Sumatera.

Standar yang tinggi sebagai tata lakasana pengeloalaan di kebun binatang perlu mendapat perhatian yang penting. Hal ini menngingat konservasi ek-situ merupakan sarana konservasi yang dapat dipercaya, karena rutin dengan pengontrolan dan pegembangbiakan. Sebagai contoh guna mengetahui kondisi reproduksinya, kebun binatang menggunakan pemeriksaan ultrasound dan mengambil sampel darah untuk menganalisis hormonnya. Dengan demikian, kondisi menuju tahap reproduksi dapat terkontrol dengan baik.

Saat ini dana potensial dari luar negeri belum termanfaatkan dengan baik. Karena kurang informasi ataupun karena kepercayaan yang luntur dari pihak luar. Sangat penting untuk memanfaatkan konservasi dari donatur-donatur. Untuk itu, tidak hanya menggunakan dana dengan optimal, tetapi perlu mendokumentasikan komitmen apabila mengajukan permohonan dana. Program pengelolaan harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat. Data dan informasi yang akurat sebagai jalan mengetahui perlakuan yang tepat dalam mengembangkan populasi badak. Perlu peningkatan penelitian mengenai ekologi, perilaku di alam, dan pola hubungan dengan ekosistem. (Wartaputra, 1991).

create : arjun

Share

4 Responses to “Evaluasi Badak Sumatera Indonesia”

Leave a Reply

Kalender
July 2010
S M T W T F S
« Jun   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
badge Fahutan IPB

IPB Badge

Arsip
Badge IPB