Archive for the ‘Artikel’ Category

Kegiatan Rafflesia 2012: In-Progress

Rafflesia 2012 adalah salah satu dari sederet program-program kerja unggulan dari Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Secara garis besar, kegiatan ini meliputi eksplorasi berbagai keanekaragaman hayati dan ekowisata di Pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk mengasah kemampuan dan pengalaman anggota Himakova – mengingat ini adalah salah satu program kerja paling awal bagi Kepengurusan Himakova periode 2012 ini – serta menghasilkan data-data ilmiah yang berguna bagi pengelola Cagar Alam dan pihak-pihak yang  terkait.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 4 s/d 11 Februari 2012, berlokasi di Cagar Alam Tangkuban Perahu, Cagar Alam Sukawayana dan Taman Wisata Alam Sukawayana Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Ya, dengan hari ini, berarti sudah tiga hari kegiatan dilaksanakan, sudah hampir setengah jalan. Kami mohon doa dari teman-teman semua, agar kegiatan ini bisa selesai seluruhnya, sepenuhnya, dengan baik dan lancar. Harapannya kegiatan ini bisa berguna bagi teman-teman Himakova, Departemen KSHE, segenap warga Fahutan IPB, serta masyarakat pada umumnya.

Semangat terus teman-teman Himakova! Fahutan, ASIK!

Share

[Bedah Buku] Belajar Merawat Indonesia

  • Oleh: Ahmad Alkadri
  • Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
  • Komisi III Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan 2012

.Pada hari Sabtu, 21 Januari kemarin, Lembaga Dompet Dhuafa bersama dengan program Bakti Nusa (Beasiswa Aktivis Nusantara) mengadakan acara seminar bedah buku Belajar Merawat Indonesia. Buku ini berisi kumpulan artikel, tulisan-tulisan, karya para mahasiswa angkatan pertama Beasiswa Aktivis Nusantara.

Undangan diberikan kepada masing-masing Lembaga Kemahasiswaan di IPB, untuk mengirimkan perwakilan mereka dalam acara bedah buku ini. Dari DPM Fahutan, secara kebetulan yang ditunjuk adalah saya, untuk menghadiri acara ini 😀 Maka dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya untuk membagi isi dari bedah buku yang telah saya peroleh dalam acara tersebut.

Pertama-tama, mari kita lihat terlebih dahulu judul buku ini. Kata per kata, mari kita tilik secara harafiah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan secara filosofis sekaligus. :mrgreen:

.

1. Belajar:

Artinya adalah berusaha agar menjadi BISA, MAMPU, dalam melakukan sesuatu. Kata ‘Belajar’ memiliki banyak kegunaan dan fungsi dalam kehidupan sehari-hari, dan kerap kali dikaitkan dengan sekolah secara formal, namun sebenarnya kata ‘Belajar’ dapat difungsikan dan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dari kita lahir hingga kita dewasa, seluruhnya terdapat proses belajar. Kita tidak bisa berjalan, kita belajar berjalan hingga bisa. Kita tidak bisa mengeja alfabet, kita belajar hingga bisa. Dan seterusnya.

Dalam belajar ada langkah-langkah yang harus ditempuh. Tidak semerta-merta langsung jadi bisa begitu saja. Akan ada jatuhbangun. Akan ada kegagalan-kegagalan yang harus dihadapi. Mungkin akan ada juga yang namanya kekecewaan. Di saat-saat seperti itulah seorang manusia diuji. Sanggupkah mereka mengatasi berbagai masalah tersebut guna memperoleh ilmu yang mereka tuju, agar dapat melakukan apa yang mereka ingin lakukan? Seberapa kuatkah mereka dalam menghadapi problematika yang ada, dalam hubungannya di dunia nyata nantinya?

Ya, ada hubungan yang sangat kuat antara Belajar dan Kesabaran di sini. Hubungan imbal balik yang sangat tinggi, tak dapat terpisahkan.

.

2. Merawat:

Memelihara, menjaga, mengurus, dsb. Sama seperti kata ‘Belajar’, ‘Merawat’ juga merupakan kata kerja, predikat, verbal, yang berarti mengacukan akan adanya sebuah ‘objek’ yang di-‘Rawat’. Ada banyak hal yang bisa dan harus kita rawat dalam hidup ini. Dari hal-hal sederhana seperti merawat tanaman, merawat alat elektronik yang kita miliki, hingga yang rumit dan membutuhkan langkah-langkah yang lebih rumit. Contoh: merawat anak, saudara, dan orangtua. Dalam melakukan kegiatan merawat, seringkali diperlukan pengorbanan, dan tidak cukup hanya sedikit. Seringkali sangat besar.

Pernahkah kita bertanya kepada ibu kita: kenapa beliau mau bangun di tengah malam, dahulu sekali, saat kita bayi, demi menyusui kita saat kita menangis? Kenapa, saat kita kecil, beliau mau membuatkan masakan untuk kita makan, dan menunggu sampai kita selesai makan baru beliau mau makan?

Jawabannya mungkin sama, untuk semua orangtua dan terutama ibu manapun: yaitu karena mereka sayang terhadap kita. Karena mereka menyayangi kita. Tanpa permintaan imbalan apapun, semata-mata demi kebaikan kita dan harapan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Jadi? Merawat berhubungan erat dengan Harapan. Bukan imbalan, tapi Harapan. Harapan yang lebih bersifat dan mengarah ke hati, kepada jiwa dan rohani, bukan fisik belaka.

Gabungkan dengan kata ‘Indonesia’, dan pastilah teman-teman semua bisa mengerti :)

Read the rest of this entry »

Share

Ecology Entrepreneur

Oleh: Fahmi Satria

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan 2012

.

Untuk membangun bangsa ini agar lebih berkembang dan maju secara ekonomi diperlukan suatu langkah strategis untuk mencapainya. Salah satunya adalah dengan kewirausahaan. David McClelland, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa suatu negara dapat dikatakan makmur apabila minimal harus memiliki jumlah entrepreneur atau wirausahawan sebanyak dua persen dari jumlah populasi penduduknya. Namun, pada kenyataannya Indonesia hanya memiliki entrepreneur atau wirausahawan sebanyak 0, 18 persen dari jumlah populasi penduduknya.

Ada banyak implementasi dari kewirausahaan yang dapat diterapkan, diantaranya adalah sosiopreneurship, agrotechnopreneurship, agropreneurship, tecnopreneurship, ecopreneurship dan masih banyak turunana lainnya. Adalah tidak menjadi suatu permasalahan mengenai hal ini.

Namun ada suatu tipe dalam melakukan wirausaha yang sangat jarang diimplementasikan, atau mungkin belum terpikirkan sama sekali. Suatu konsep berwirausaha yang mensinergikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dimana ketiganya dapat berjalan beriringan.

Read the rest of this entry »

Share

Bisnis di Kawasan Konservasi, Mengapa Tidak?

Oleh: Fahmi Satria

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fahutan 2012

.

Saat ini, bisa dipastikan bahwa pengelolaan kawasan konservasi sangat bergantung kepada pemerintah terkait dengan pendanaan untuk pengelolaan. Dana dari pemerintah pusat tersebut tentunya terbatas dalam melaksanakan manajemen kawasan yang efektif. Mengelola kawasan konservasi yang begitu luas seperti taman nasional yang luasnya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektare tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Apabila dana dari pemerintah tak cukup, maka bisa dipastikan bahwa pengelolaan pun akan menemui mati suri. Implikasinya bisa mengacam kawasan konservasi itu sendiri.

Pengelolaan kawasan konservasi saat ini bisa dikatakan masih terpengaruh dengan paradigma lama yang hanya memfokuskan pada perlindungan yang berefek pada mekanisme pengamanan kawasan. Paham ini merupakan pola pikir lama paham konservasi konvensional yang bermadzhab konservasi ortodoks. Pemahaman ini merupakan era lama pada masa yellowstone sekitar tahun 1872, namun mengakar kuat di pikiran pengelola kawasan konservasi sehingga menjadi pola pikir yang sangat sulit dirubah, bahkan hingga saat ini.

Read the rest of this entry »

Share
Kalender
September 2017
S M T W T F S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
badge Fahutan IPB

IPB Badge

Arsip
Badge IPB